INILAH.COM, Jakarta - Secara psikologis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengharapkan sentimen ekstra dari pasar untuk menggapai level 3.000. Indeks tak bisa mengandalkan sentimen regional.
Pengamat pasar modal, Satrio Utomo menguraikan, sentimen ekstra ini diibaratkan orang harus berpikir keras untuk membeli saham ketimbang disuruh menjual saham. Belum lagi, kondisi regional yang belum jelas pergerakannya.
“Untuk hari ini IHSG masih mixed dengan kisaran 2.900-2.925. Pasar saham butuh sentimen ekstra,” prediksi Satrio Utomo dalam perbincangannya dengan INILAH.COM, Senin (28/6) petang.
Di tengah kondisi regional yang belum stabil, ia mengharapkan pelaku pasar berhati-hati bertransaksi. Bahkan, dukungan Dow Jones pun diperlukan untuk membuat IHSG bisa menuju 3.000.
Belum lagi kabar domestik tentang pengumuman inflasi Juni yang diprediksi tidak baik. “Yang terpenting para trader harus punya posisi searah dengan pergerakan indeks. Jika tidak ya terjebak,” urainya.
Sektor perbankan pun diperkirakan masih menjadi penggerak indeks walaupun kecil. Sebut saja, PT Bank Tabungan Negara (BBTN) yang masih memiliki tenaga untuk naik dan secara teknikal melewati rekor harganya.
Lain halnya dengan sektor komoditas di tengah harga minyak yang naik namun masih tertekan. “Untuk hari ini ada berita pengumuman eks dividen PT Unilever Indonesia (UNVR). Jika regional buruk maka saham ini akan turun dan mempengaruhi indeks,” imbuhnya.
Ia mengakui, saham UNVR dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp119,028 triliun atau berada pada urutan ke-4 pada posisi 1 Juni 2010 menjadi monorel pengerak indeks.
Berbeda dengan Satrio, analis pasar modal, Surya Wijaya melihat indeks hari ini akan melanjutkan penguatannya berkat dorongan G-20 dan foreign net buy asing kemarin yang mencapai Rp35,4 miliar. “Kemungkinan IHSG masih melanjutkan penguatan dengan kisaran 2.920-3.005,” prediksinya.
Kenaikan IHSG dalam sebulan terakhir menjadi yang tertinggi regional Asia, disusul oleh All Ordinaries Australia. Penurunan yang dialami IHSG hingga titik terendahnya pada 25 Mei lalu, adalah juga yang terparah di Asia.
Jadi, karakter pergerakan IHSG memang unik dibandingkan dengan tetangga-tetangganya. IHSG sangat dipengaruhi oleh greed dan fear sehingga koreksi dan kenaikan yang terjadi selalu lebih dramatis dibanding bursa-bursa regional sehingga posisi indeks saat ini adalah wajar meski memang overvalued. [mdr]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar