INILAH.COM, Jakarta - Terkulainya Indeks Harga Saham Gabungan dinilai masih sehat dengan aksi profit taking yang sudah mencapai titik tertingginya.
Periset PT Dongsuh Kalibindo Securities, Ryan Ariadi Suwarno menilik IHSG hari ini masih melanjutkan pelemahan dengan support I di level 2.858 dan support II di level 2.830, sedangkan resistance I di 2.947 dan resistance di 2.956.
“Koreksi indeks kemarin (29/6) masih sehat dan wajar mengakhiri window dressing di Juni ini,” prediksi Ryan dalam perbincangannya dengan INILAH.COM, Senin (29/6).
Ia mencontohkan saham PT Bank Mandiri (BBRI), PT Bank Tabungan Negara (BBTN) dan PT Unilever Indonesia (UNVR) anjlok, namun masih wajar.
Begitu juga dengan sektor komoditas menurun sebab harga batubara turun dari US$100 juta menjadi US$90 juta. “Sebaiknya untuk sektor komoditas lebih baik speculative buy on weakness dengan fundamental yang bagus menunggu awal Juli,” sarannya.
Ryan juga melihat dalam satu bahkan tiga minggu terakhir, indeks diwarnai foreign ney buying dengan indikasi positif. Sayangnya investor lokal malah panik. “Indeks akan ada sentimen baik di awal Juli merespon laporan keuangan perseroan dan IPO semester ke II,” prediksinya.
Penelahaan Ryan pun diamini Kepala Riset PT Bhakti Investama, Budi Ruseno. Ia melihat hari ini, indeks masih melanjutkan pelemahannya dengan kisaran 2.850-2.920. Namun, sentimen positif akan datang di semester II 2010 dengan pencatatan saham baru alias IPO. “Rupiah kita juga harus dijaga di level 9.050,” sarannya.
Saham-saham yang berkapitalisasi besar pun diperkirakan mampu menopang indeks seperti sektor komoditas, infrastuktur, dan perbankan. Lihat saja, saham perbankan Indonesia berbeda dengan saham perbankan bursa regional yang rentan terhadap swap. [mdr]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar