INILAH.COM, Jakarta - Terbukti, hajatan Piala dunia tak sampai membuat pasar saham lesu. Buktinya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menguat. Semuanya di luar dugaan.
Paling tidak, sejak pesta di Johannesburg itu berlangsung, Indeks Harga Saham Gabungan telah menguat 5,73% dari 2.770,79 (10/6) ke 2.929,59 (18/6). Nilai transaksi pun mengalami peningkatan yang signifikan. “Benar-benar di luar dugaan,” kata seorang kepala riset.
Yang menarik, ramainya perdagangan didukung peran investor asing yang cukup besar. Data di Bursa Efek Indonesia menunjukkan, selama sepekan kemarin, asing telah mencatatkan beli bersih (net buy) senilai Rp2,22 triliun. Jauh di atas minggu sebelumnya yang hanya sekitar Rp728 miliar.
Apakah Piala Dunia di Afrika Selatan tak lagi menarik untuk disimak dan dijadikan ajang taruhan? “Lho, World Cup tetap menjadi pusat perhatian. Urusan investasi lain lagi,” kata sang kepala riset. Menurut dia, ada beberapa hal yang mendorong ramainya perdagangan saham dua pekan terakhir ini. Salah satunya sinyal dari pasar saham AS yang selalu hijau.
Seperti diketahui, setelah berhasil kembali menembus batas psikologis 10.000, indeks Dow Jones, kendati kecil-kecilan, terus menaik. Dalan delapan hari perdagangan (sesuai waktu berlangsungnya laga World Cup), DJIA telah menguat 278 poin (2,73%) dan berhasil menclok di lecel 10.450 (18/6). “Menguatnya Wall Street menunjukkan bahwa tak ada sentimen negatif dari pemulihan perekonomian di AS maupun Eropa,” kata seorang analis dari sekuritas asing.
Indikator yang menyalakan sinyal positif lainnya adalah bertahannya harga minyak dunia di level US$75-77 per barel. Tingginya harga si hitam inilah yang selain menunjukkan bertambahnya permintaan, juga membuat harga komoditas di luar migas tetap di atas.
Sedangkan dari dalam negeri, sentimen positif berhembus dari Gedung Bank Indonesia. Sejak otoritas moneter mengharuskan investor menahan kepemilikannya di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) minimal 30 hari, banyak pemodal (termasuk asing) yang keluar dan berpindah ke Surat Berharga Negara dan pasar saham.
Lantas apa yang akan terjadi di pasar di pekan ini? “Karena kemarin sudah terjadi kenaikan yang lumayan, kemungkinan terjadinya koreksi cukup terbuka,” kata sang analis.
Tapi, itu hanya akan berlangsung sejenak. Jika tak ada kabar buruk dari luar sana, ia yakin indeks akan menguat mendekati level 3.000. dan kalau pun terjadi koreksi, menurut perhitungannya, tidak akan sampai menembus ke wawah 2.860.
Dalam kondisi seperti ini, sejumlah analis yang dihubungi INILAH.COM menyarankan investor melakukan trading untuk jangka pendek. Beli di bawah dan lepas setelah ada sedikit kenaikan.
Adapun beberapa saham yang mendapat rekomendasi untuk ditransaksikan antara lain, PT Bumi Resources (BUMI), PT Internasional Nickel Indonesia (INCO) dan PT Bakrieland Development (ELTY). Berkat menguatnya harga komoditas, saham-saham itu dalam jangka pendek diprediksi menghasilkan gain 4-6%.
Efek lainnya yang juga mendapat rekomendasi kuat datang dari sektor pertambangan batubara. Ketika PT Adaro Energy (ADRO) dan PT Bukit Asam (PTBA) melemah, investor dipersilakan melakukan koleksi. [mdr]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar